Mengenal Teripang Laut: Hewan Laut Bernilai Tinggi dari Perairan

Teripang laut bernilai ekonimis tinggi

Di antara gemuruh samudra yang tak pernah tidur, hidup makhluk laut bernama teripang, atau sering disebut ketimun laut karena bentuk tubuhnya yang lunak dan memanjang. Ia bukan sekadar penghuni dasar laut, melainkan bagian dari warisan laut tropis yang telah lama dikenali oleh banyak budaya. Teripang tak hanya dikenal di perairan Indonesia, namun juga dihargai di Jepang, Hong Kong, Amerika, hingga Eropa. Dalam kebudayaan Tiongkok, sejak zaman Dinasti Ming, teripang dijadikan hidangan istimewa dalam berbagai perayaan besar. Diam-diam, makhluk ini telah menyentuh berbagai lapisan masyarakat dunia, bukan hanya karena rasanya, tetapi karena khasiatnya yang dipercaya menyentuh sisi kesehatan manusia.

Teripang sering kali dikaitkan dengan manfaat pengobatan tradisional. Jenis Stichopus japonicus misalnya, telah lama digunakan untuk membantu pemulihan berbagai penyakit seperti ginjal, paru-paru basah, hingga anemia. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa tubuh dan kulitnya memiliki sifat antiinflamasi dan mampu memperlambat proses penuaan sel. Bahkan, senyawa aktif dalam ekstraknya menunjukkan potensi antibakteri yang kuat. Tak banyak bicara, namun kehadirannya menyimpan daya yang bekerja dalam senyap—mungkin seperti halnya alam yang menyembuhkan dengan cara yang tidak selalu kita pahami.

Secara ilmiah, teripang termasuk dalam kelompok hewan laut Echinodermata. Sebagian memiliki kulit berbintil atau berduri, namun tidak semuanya. Struktur keras itu sebenarnya adalah rangka kecil dari zat kapur yang tersembunyi di balik kulitnya, terlalu halus untuk terlihat tanpa bantuan mikroskop. Meski tak terlihat kasatmata, struktur ini memberi perlindungan dan kekuatan. Seperti banyak hal dalam hidup, kadang yang paling berharga justru tersembunyi dalam kesederhanaan bentuk dan keheningan fungsi—dan laut, dengan segala penghuninya, seakan terus mengingatkan kita akan hal itu.

Habitat Teripang di Alam

Klasifikasi Ilmiah Teripang

Di balik wujudnya yang lembut dan tidak mencolok, teripang menyimpan struktur kehidupan yang kompleks. Makhluk ini bukan sekadar bagian dari ekosistem laut, tetapi juga hasil dari proses evolusi panjang yang menjadikannya unik. Untuk memahami kedudukannya dalam dunia ilmiah, teripang dikaji dan dikelompokkan melalui klasifikasi biologis yang menunjukkan kedekatannya dengan hewan laut berduri lainnya. Meskipun bentuknya berbeda dari bintang laut atau bulu babi, teripang tetap satu rumpun dalam struktur taksonomi.

Secara ilmiah, teripang termasuk dalam filum Echinodermata, yaitu kelompok hewan laut yang memiliki sistem pergerakan berbasis saluran air (ambulakral) dan tubuh yang umumnya simetris radial pada tahap dewasa. Di dalam filum ini, teripang dikelompokkan dalam kelas Holothuroidea, yang mencakup berbagai spesies dengan tubuh silindris dan lunak, sering kali tanpa bagian keras yang terlihat. Teripang memiliki keragaman genus dan spesies yang cukup luas, yang tersebar di berbagai wilayah perairan dunia.

Berikut adalah klasifikasi ilmiah dari beberapa jenis teripang:
  • Filum: Echinodermata
  • Kelas: Holothuroidea
  • Ordo: Aspidochirotida
  • Famili: Holothuriidae
  • Genus dan Spesies utama:
  • Genus Holothuria
  • Spesies: Holothuria scabra dan lainnya
  • Genus Muelleria
  • Spesies: Muelleria lecanora
  • Genus Stichopus
  • Spesies: Stichopus ananas dan lainnya
Masing-masing genus memiliki ciri khas bentuk tubuh, warna, habitat, serta nilai ekonomi yang berbeda. Misalnya, Holothuria scabra lebih dikenal sebagai teripang pasir, sering dibudidayakan karena permintaan pasar yang tinggi. Sementara itu, Stichopus ananas dikenal memiliki daging tebal dan tekstur khas yang disukai di beberapa negara Asia. Melalui klasifikasi ini, kita bukan hanya mengenali nama, tetapi juga memahami betapa luas dan dalam kehidupan yang tersembunyi di dasar laut—sebuah tatanan yang menunjukkan kebijaksanaan alami dalam penciptaan.

Morfologi Bentuk Tubuh Teripang Laut

Teripang memiliki bentuk tubuh yang khas, umumnya bulat panjang atau silindris, dengan panjang berkisar antara 10 hingga 30 cm. Pada salah satu ujung tubuhnya terdapat mulut, sementara di ujung lainnya terdapat anus. Karena bentuk tubuhnya yang menyerupai ketimun, makhluk ini dikenal dalam bahasa Inggris sebagai sea cucumber atau ketimun laut. Mulut teripang dikelilingi oleh tentakel atau lengan peraba yang terkadang bercabang-cabang, berfungsi untuk menangkap partikel makanan di dasar perairan.

Struktur tubuh teripang bersifat berotot dan lentur. Permukaannya bisa tipis atau tebal, licin atau berbintil, tergantung pada jenisnya. Warna tubuhnya pun bervariasi: ada yang hitam pekat, cokelat, abu-abu, hingga yang bercorak bintik atau garis di bagian punggung dan sisi tubuh. Teripang umumnya tampak berbaring di satu sisi tubuh yang cenderung berwarna lebih pucat, dan beberapa spesies diketahui senang membenamkan diri dalam pasir sebagai bentuk perlindungan diri. Bentuk tubuhnya yang sederhana namun adaptif mencerminkan keselarasan dengan lingkungan laut yang luas dan penuh teka-teki.

Di perairan Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 257 spesies teripang. Namun, hingga kini baru sekitar 60 spesies yang berhasil diidentifikasi secara ilmiah. Dari jumlah tersebut, 23 spesies telah dieksploitasi dan dikonsumsi masyarakat. Di antara 23 spesies yang dimanfaatkan, hanya lima yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dicari, yaitu:
  • Teripang putih atau teripang pasir (Holothuria scabra),
  • Teripang hitam (Holothuria nobilis),
  • Teripang getah atau teripang keling (Holothuria vacabunda),
  • Teripang merah (Holothuria vatiensis),
  • Teripang cokelat (Holothuria marmorata).
Dari kelima jenis tersebut, Holothuria scabra atau teripang putih merupakan yang paling banyak ditangkap dan diperdagangkan, sehingga sering disebut pula sebagai “teripang kapur.” Ia menjadi simbol utama dalam perdagangan hasil laut karena daya jualnya yang tinggi dan kandungan nutrisinya yang dipercaya memiliki banyak manfaat.

Habitat dan Kebiasaan Hidup Teripang

Teripang hidup di wilayah pesisir yang menjadi penghubung antara daratan dan kedalaman laut, mulai dari zona pasang surut hingga perairan yang lebih dalam. Mereka menghuni beragam tipe lingkungan, seperti dasar berpasir, berlumpur, area dengan tutupan lamun (seagrass), serta wilayah karang yang memiliki celah dan perlindungan alami. Beberapa spesies bahkan menggali lubang di dalam lumpur dan pasir untuk bersembunyi dari predator. Tempat-tempat ini, meski tampak sunyi dan sederhana, menjadi panggung kehidupan bagi teripang—makhluk yang berjalan lambat namun menyimpan peran penting dalam ekosistem.

Setiap jenis teripang memiliki preferensi habitat yang khas. Misalnya, Holothuria scabra atau teripang putih/pasir, lebih menyukai dasar berpasir atau pasir bercampur lumpur pada kedalaman 1 hingga 40 meter, terutama di perairan dangkal yang dipenuhi tumbuhan lamun. Jenis lain seperti Holothuria nobilis (teripang lotong), Holothuria fuscogilva, dan Thelenota ananas (teripang pandan), lebih sering ditemukan di sekitar terumbu karang pada kedalaman 10–30 meter. Sementara itu, Actinopyga miliaris dan Actinopyga echinites umumnya menghuni area karang yang lebih kompleks. Habitat ini menyediakan perlindungan dan sumber makanan yang cukup untuk kelangsungan hidup mereka.

Gerakan teripang sangat lambat, bahkan nyaris tak terlihat jika diamati sekilas di alam bebas. Namun, saat terancam, mereka memiliki cara bertahan yang unik. Beberapa spesies mengeluarkan lendir beracun, sementara yang lain seperti Holothuria vacabunda (teripang getah) mampu menyemprotkan benang lengket dari tubuhnya. Getah ini akan membelit predator yang mencoba mengganggunya; semakin kuat gerakan musuh, semakin rapat pula lilitan getah itu—seolah alam pun memberi jalan perlindungan melalui mekanisme yang tenang namun tegas.

Penangkapan teripang di Indonesia umumnya dilakukan dengan cara menyelam, terutama di perairan dangkal, cukup dengan memungutnya langsung dari dasar laut tanpa alat khusus. Namun, untuk spesies yang hidup lebih dalam seperti teripang pandan atau teripang koro, para penyelam dari suku Bugis, Makassar, Madura, dan Buton menggunakan alat bantu berupa pompa udara (kompresor) untuk menyelam hingga kedalaman 20 meter. Pengetahuan lokal ini menjadi bagian dari kearifan maritim yang diwariskan secara turun-temurun.

Penyebaran teripang di Indonesia sangat luas, mencakup hampir seluruh wilayah pesisir nusantara, seperti perairan Madura, Bali, Lombok, Aceh, Bengkulu, Bangka, Riau, Belitung, Kalimantan (Barat, Timur, dan Selatan), Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Barat dan Timur, hingga Kepulauan Seribu. Keberadaan mereka yang tersebar di banyak wilayah memperlihatkan betapa teripang bukan hanya bagian dari alam, tetapi juga dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat pesisir Indonesia.

Jenis teripang mereah berbulu

Teripang di dasar perairan

Kandungan Gizi dan Manfaat Teripang bagi Kesehatan

Teripang telah lama dikenal bukan hanya sebagai makanan laut yang lezat, tetapi juga sebagai sumber gizi yang tinggi. Kandungan proteinnya sangat tinggi, sementara kadar lemaknya rendah, menjadikannya ideal untuk konsumsi sehat. Selain itu, teripang mengandung kolagen, asam amino esensial, glikosida, saponin, dan beragam mineral penting seperti kalsium, magnesium, serta zat besi. Kombinasi kandungan ini menjadikan teripang sebagai salah satu bahan pangan laut yang mendukung vitalitas tubuh secara menyeluruh.

Secara tradisional, teripang telah digunakan dalam pengobatan masyarakat Asia, terutama dalam mengatasi berbagai keluhan seperti gangguan pencernaan, radang sendi, luka dalam, dan pemulihan pascaoperasi. Kolagen dalam teripang juga dipercaya membantu regenerasi jaringan tubuh, mempercepat penyembuhan luka, dan menjaga elastisitas kulit. Di beberapa studi modern, ditemukan pula potensi zat aktif dalam teripang yang bersifat antioksidan, antiinflamasi, bahkan antitumor.

Manfaat-manfaat ini menjadikan teripang sebagai simbol penyembuhan yang lahir dari kedalaman laut. Tanpa banyak gemerlap atau promosi, ia hadir sebagai bahan alami yang mendukung pemulihan tubuh dengan caranya yang tenang. Seperti laut yang tak selalu kita lihat dasarnya, namun terasa manfaatnya bagi bumi, teripang mengajarkan bahwa kekuatan seringkali tersembunyi dalam kesederhanaan.

Teripang kuning berbulu

Jenis teripang berbintik di tubuh

Peran Ekologis Teripang dalam Lautan

Teripang memiliki peran ekologis penting di ekosistem laut, khususnya sebagai pembersih alami dasar laut. Ia memakan partikel-partikel organik, sisa makanan, dan detritus yang tertimbun dalam sedimen. Melalui proses tersebut, teripang membantu menyaring dan menjaga kebersihan dasar perairan, serta menjaga keseimbangan ekosistem mikro yang hidup dalam substrat pasir dan lumpur.

Proses pengadukan sedimen yang dilakukan teripang dikenal sebagai bioturbasi. Proses ini memungkinkan nutrisi di dasar laut tersirkulasi dan tersedia bagi organisme lain. Kehadiran teripang sangat penting untuk menjaga kestabilan ekosistem bentik (dasar laut), karena tanpa perannya, sedimen bisa menjadi terlalu padat dan menghambat kehidupan organisme dasar lainnya. Ia bekerja dalam diam, namun hasilnya memberi ruang hidup bagi banyak kehidupan lain.

Hilangnya populasi teripang akibat eksploitasi berlebihan akan berdampak pada menurunnya kualitas substrat dasar laut. Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan ledakan alga, penurunan keanekaragaman hayati, dan terganggunya rantai makanan di lingkungan tersebut. Dengan menjaga keberadaan teripang, kita sejatinya sedang menjaga jantung dari ekosistem perairan itu sendiri—yang menyeimbangkan, menghidupkan, dan menenangkan dunia bawah laut.

Budidaya dan Pengelolaan Teripang yang Berkelanjutan

Meningkatnya permintaan pasar terhadap teripang, khususnya dari luar negeri, mendorong pengembangan budidaya teripang sebagai solusi untuk menjaga keberlanjutan. Budidaya ini umumnya dilakukan terhadap spesies Holothuria scabra (teripang pasir), yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan pertumbuhan relatif cepat. Proses budidaya mencakup pengumpulan indukan, pemijahan, penetasan larva, dan pembesaran di tambak atau laut lepas.

Lingkungan budidaya yang ideal harus memiliki perairan yang bersih, dangkal, dasar berpasir berlumpur, serta terlindung dari arus kuat. Teripang tidak memerlukan pakan buatan karena ia memanfaatkan detritus alami, menjadikannya ramah lingkungan dan rendah biaya. Namun, sistem budidaya ini tetap memerlukan perhatian terhadap predator alami dan keseimbangan ekologis kolam agar hasil optimal bisa dicapai. Keberhasilan budidaya sangat ditentukan oleh pemahaman terhadap siklus hidup dan karakter alami teripang.

Jika dikelola dengan pendekatan berbasis masyarakat pesisir, budidaya teripang dapat menjadi sumber pendapatan alternatif yang ramah lingkungan. Selain memberikan hasil ekonomi, budidaya ini juga mendukung konservasi teripang liar. Melalui kearifan lokal yang diwariskan, kita bisa mengelola laut bukan sebagai objek eksploitasi semata, tetapi sebagai amanah yang perlu dirawat dengan keseimbangan—antara mengambil dan memberi kembali.

Harmony teripang laut

Penutup: Teripang, Harta Laut yang Diam Namun Berdaya

Teripang adalah makhluk laut yang diam namun berdaya, sederhana namun penuh manfaat. Dari dasar laut yang senyap, ia menghadirkan nutrisi, penyembuhan, keseimbangan ekosistem, hingga potensi ekonomi yang tidak kecil. Keberadaannya memberi pelajaran bahwa nilai tidak selalu tampak dari luar, dan bahwa yang berjalan lambat pun bisa memberi perubahan besar jika kita mampu melihat lebih dalam.

Indonesia sebagai negeri maritim yang kaya, memiliki potensi besar dalam pengelolaan teripang secara berkelanjutan. Dengan menjaga kelestariannya dan mengembangkan budidaya yang bijaksana, masyarakat pesisir dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan. Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bersinergi dalam menjaga keseimbangan ini.

Sebagaimana laut yang tak pernah menuntut, tetapi selalu memberi, demikian pula teripang: diam, tenang, namun penuh makna. Ia adalah bagian dari wajah laut kita—yang harus dijaga bukan hanya untuk hari ini, tapi juga demi masa depan generasi yang akan datang.

Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Teripang
M.Ghufran H.Kordi, Cara Gampang Membudidayakan Teripang, Lily Publisher, Yogyakarta 2012.
Gambar: Search Google Picture

๐ŸŒŠ๐Ÿ”– Sumber Rujukan Umum: Teripang (Sea Cucumber)

Berikut adalah sumber-sumber terpercaya yang mendukung isi artikel tentang teripang, mencakup ekologi, eksploitasi, potensi medis, serta upaya konservasi dari berbagai perspektif lokal maupun internasional.

“Teripang tak bersuara di kedalaman, namun menyimpan harta karun biologis yang menunggu ditemukan. Hikmah alam selalu hadir dalam kesunyian yang dijaga.”

Pencarian:
  • manfaat teripang laut untuk kesehatan dan pengobatan alami
  • harga jual teripang kering ekspor per kilo terbaru 2025
  • cara budidaya teripang di tambak untuk pemula sukses
  • kandungan gizi dan bioaktif teripang Holothuria scabra
  • teripang sebagai bahan obat tradisional China dan Asia Tenggara
  • potensi ekspor teripang Indonesia ke pasar internasional
  • cara mengolah teripang agar khasiatnya tidak hilang
  • jenis teripang paling mahal dan dicari di dunia
  • peraturan dan izin resmi ekspor teripang dari KKP
  • budidaya teripang tanpa pakan buatan ramah lingkungan
  • efek anti kanker dari senyawa bioaktif dalam teripang laut
  • prospek usaha teripang laut di wilayah pesisir Indonesia
  • ancaman eksploitasi teripang dan upaya konservasinya
  • cara membedakan teripang asli dan tiruan di pasaran
  • penelitian terbaru tentang teripang dan aplikasinya dalam farmasi

1 comment for "Mengenal Teripang Laut: Hewan Laut Bernilai Tinggi dari Perairan"

Comment Author Avatar
ass..., saya membutuhkan teripang minimal 10-200 kg setiap hari jenis:1.small green fish(teripang jepung) ukuran 100-180 pcs/kg dan 2.small curry fish (tkk) ukuran 3-4 cm. bagi yang punya keluarga,teman,atau kenalan pedangang teripang harap memberitahu saya secepatnya, masalah komisi anda jangan kuatir kami akan atur untuk anda, tolong sms terlebih dahulu karna kami tidak akan angkat tlpn kalau tidak sms dulu:Andi samsul bahri
sms: +62 85 145 431 707
tel: +62 411 366 2250
fax: +62 411 366 2101
Email: indonusacorner@gmail.com
Web: www.indonusacorner.com
Offices: Regus Graha Pena
5th Floor, Jl.Urip Sumoharjo No.20
Makassar 90324, Indonesia.
KEBUTUHAN MENDESAK

Catatan Penting untuk Pembaca:
Informasi dalam artikel ini disajikan sebagai bacaan umum yang bersifat informatif dan ringan. Untuk keperluan akademik, penelitian ilmiah, atau keputusan teknis mendalam, sangat disarankan merujuk pada sumber primer seperti jurnal ilmiah peer-reviewed, buku teks biologi kelautan, dan publikasi resmi dari institusi riset. Anda juga dapat menelusuri data lebih lanjut melalui portal resmi dan database ilmiah yang terverifikasi untuk memperoleh keakuratan yang lebih tinggi.

๐ŸŒพ Terima kasih telah membaca hingga akhir. Semoga artikel ini bukan hanya memberi pengetahuan, tapi juga mengantar satu dua langkah ke dalam keheningan yang berisi. Jika tulisan ini bermanfaat, kami bersyukur. Jika ada kekeliruan, biarlah itu menjadi pengingat bahwa ilmu adalah lautan yang tak pernah selesai dicatat. Selamat menjelajah, dan semoga setiap air yang kau jumpai mengajarkanmu sesuatu.


Dalam diamnya perairan menyimpan berjuta rahasia, tulisan ini mencoba membisikkan sebutir darinya. Jika kamu merasakan getarnya, bantu kami terus menyelam—menjemput hikmah di kedalaman yang tak terlihat.

๐Ÿฌ Dukung Dunia Perairan di Sociabuzz